Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Maret 2010

PERKEMBANGAN LUKISAN JELEKONG

Awal Keberadaan Lukisan
Salah satu hal yang menarik dari desa Jelekong adalah sebagian besar penduduknya menjadikan kegiatan melukis sebagai mata pencaharian. Biasanya kegiatan melukis hanya dilakukan oleh seseorang yang memiliki bakat, dan jarang dilakukan oleh komunitas masyarakat dalam satu wilayah. Namun tidak demikian hal nya dengan desa Jelekong. Masyarakat di daerah ini mampu menghasilkan banyak lukisan setiap harinya yang kemudian akan dijual, baik di daerah tersebut maupun ke daerah-daerah lain bahkan ke luar negeri, sehingga menjadikan kegiatan melukis ini sebagai mata pencaharian pokok. Padahal, secara geografis dan budaya, daerah ini tidak jauh berbeda dengan daerah disekitarnya. Untuk menjelaskan kondisi ini, harus dipahami terlebih dahulu sejarah awalnya, hingga dapat diketahui bagaimana penyebab dan proses berkembangnya lukisan di Jelekong.
Lukisan Jelekong mulai dikenal oleh para peminat lukisan sejak tahun 1970-an. Bapak Odin Rohidin sangat berjasa dalam mengembangkan lukisan di Jelekong sehingga dikenal oleh peminat lukisan bahkan dari luar negeri. Beliaulah yang pertama kali mengembangkan lukisan di daerah ini dengan mengajarkannya secara turun temurun menyerupai suatu jaringan, sehingga dikenal istilah generasi-generasi. Diawali dari kerabat Pak Odin sendiri, yaitu Pak Zaenudin (keponakannya), Pak Kosim, Pak Uga, dan Pak Nana −selanjutnya mereka dikenal dengan generasi pertama. Lambat laun, jumlah pelukis di daerah ini terus berkembang, sampai sekarang sudah ratusan orang yang mengandalkan hidupnya dari melukis.
Sebenarnya Bapak Odin juga belajar melukis kepada orang lain. Orang itu bernama Wawan (almarhum), masih orang Jelekong dan merupakan sahabat Bapak Odin. Waktu itu, Pak Odin ikut ke Jakarta karena tidak mempunyai pekerjaan, sehingga beliau mengikuti Pak Wawan dan kemudian belajar melukis kepadanya. Setahun kemudian beliau kembali ke Jelekong dan memulai usahanya dalam menghasilkan lukisan sambil terus belajar.

Perkembangan Kuantitas Lukisan
Dikenalnya seni lukis di Desa Jelekong yang dipelopori oleh Bapak Odin Rohidin, telah membawa perubahan yang signifikan dari jumlah pelukis di Desa Jelekong dan hasil lukisan yang dibuatnya. Seperti yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya mengenai awal keberadaan lukisan Jelekong, dimana akhirnya kegiatan melukis dikenal luas dan dijadikan mata pencaharian masyarakat Jelekong.
    Pada mulanya, lelaki berusia 65 tahun ini tidak mengajarkan bakatnya tersebut kepada orang lain di wilayah Jelekong, melainkan sekitar tahun 1964 sampai tahun 1973 ia hanya memasarkan lukisannya ke Jakarta. Kemudian pada tahun 1973 barulah ia mulai mengajarkan keahlian melukisnya kepada masyarakat Jelekong.     Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, setelah keempat orang tersebut dapat melukis, maka mereka mengajarkan ilmu melukisnya tersebut kepada kerabat maupun warga Jelekong lainnya. Proses pembelajaran melukis secara turun temurun ini masih berlaku hingga sekarang. Dikenalnya lukisan Jelekong disebabkan semakin bertambah luas daerah pemasarannya, bahkan keluar negeri seperti Malaysia, Taiwan, Singapura, negara-negara Arab, dan Amerika. Hal ini tidak luput dari peran serta media massa dan media cetak dalam memberitakan dan memperkenalkan lukisan Jelekong secara luas.
    Semakin luasnya berita tentang Jelekong sebagai penghasil lukisan, menjadikan wilayah Jelekong mulai didatangi para pendatang dari luar Jelekong. Tapi sungguh disayangkan tidak adanya data yang secara detail mengenai jumlah pelukis di wilayah Jelekong. Tapi berdasarkan wawancara dengan Bapak Dedeh Sutyana, didapatkan keterangan bahwa pelukis Jelekong diperkirakan berjumlah 98% dari seluruh warga diwilayah tersebut dan kebanyakan diantara mereka adalah pemuda. Selanjutnya ia juga menjelaskan bahwa saat ini pelukis Jelekong diperkirakan mencapai 200 orang.
    Wilayah yang menjadi pusat pelukis adalah di sekitar RT. 07, yang juga merupakan wilayah tempat kediaman Bapak Odin Rohidin. Selain itu di RT. 04, RT. 05, RT. 06, dan RT. 08 juga banyak komunitas pelukisnya. Lukisan yang dihasilkan oleh para pelukis di wilayah RT. 01 dan RT. 02 berbeda dari wilayah lain yang disebutkan diatas, yang mana lukisan dikedua wilayah tersebut bercirikan lukisan wayang. Sedangkan di wilayah lainnya lukisan Jelekong pada umumnya bersifat naturalis seperti pemandangan, hewan, atau manusia. Hal ini dikarenakan mereka lebih terfokus pada kesenian wayang yang lebih dulu terkenal daripada Lukisan Jelekong, yaitu dengan nama Kesenian Wayang Golek Giri Harja. Adapun kesamaan dari kedua kesenian ini (wayang dan Lukisan) yaitu adanya seorang pembaharu atau pionir yang mengenalkannya. Pelopor lukisan Jelekong adalah Odin Rohidin sedangkan pada kesenian wayang adalah Abah Sunarya yaitu Ayah dari dalang terkenal Asep Sunandar Sunarya. Selain itu, kesamaannya adalah bahwa kedua kesenian ini diwariskan turun temurun.
    Jika kita ingin melihat kuantitas lukisan yang dihasilkan pelukis, maka kita tidak dapat menghitungnya secara pasti. Karena setiap individu menghasilkan jumlah lukisan yang berbeda-beda. Bagi para pemula, biasanya menghasilkan satu atau dua buah lukisan dalam satu hari. Tetapi bagi mereka yang sudah ahli dan terbiasa dapat menghasilkan lima sampai delapan buah lukisan perhari untuk kemudian dijual kepada bandar-bandar lukisan yang berada di wilayah Jelekong. Jumlah lukisan yang dihasilkan juga bergantung pada rumit tidaknya jenis lukisan yang dibuat, walaupun ia telah lama melukis, tapi jika lukisannya rumit, maka ia akan menghabiskan waktu lebih lama dari pada biasanya.  Berbeda halnya dengan lukisan pesanan, baik yang datangnya dari dalam ataupun luar negeri, pelukis dapat menghasilkan lukisan sebanyak 10 hingga 15 lukisan dengan durasi kerja mulai pukul 04.00 pagi (sesudah sholat Subuh) sampai pukul 9 atau 10 malam.
    Dalam kegiatan penjualan lukisan, biasanya pelukis yang memiliki modal cukup besar memperkerjakan para pemuda-pemuda yang bisa melukis untuk membantu mereka, untuk memenuhi pesanan lukisan dari para konsumen. Biasanya seorang pelukis dibantu kira-kira oleh empat sampai lima orang. Dan biasanya para pekerja tersebut tidak hanya berasal dari wilayah Jelekong, tetapi juga dari luar Jelekong.
         Produksi dan hasil penjualan lukisan Jelekong mulai mengalami peningkatan pada masa perekonomian Indonesia mulai berangsur-angsur pulih dari krisis moneter. Pada masa krisis moneter yang menimpa Indonesia, para pelukis Jelekong terkena imbasnya. Bahkan omset perbulan mereka mengalami penurunan drastis disebabkan sepinya pembeli dan pesanan baik dari dalam ataupun luar negeri. Tetapi ketika setelah moneter, keadaan mulai kembali pulih. Ini ditandai dengan mulai meningkatnya jumlah pesanan hingga mencapai ribuan lukisan yang berasal kebanyakan dari wilayah Asia seperti Malaysia, Singapur, Taiwan, bahkan Saudi Arabia. Dan untuk dalam negerinya yaitu biasanya dari wilayah Jawa, yaitu Garut, Cihampelas, Jakarta, Cipanas,  Bandung (Braga dan Cihampelas), Bali yang banyak memesan lukisan tersebut. Dengan banyaknya jumlah pesanan tersebut, maka jumlah hasil produksi yang dihasilkan oleh para pelukis Jelekong otomatis akan meningkatkan sehingga akan menambah pendapatan mereka.
    Karena tidak adanya data mengenai lukisan (pelukis ataupun produknya) dari kantor kelurahan, maka tidak dapat dipastikan berapa jumlah pasti para pelukis yang bermukim di wilayah Jelekong. Namun dengan wawancara yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa para pelukis Jelekong semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan semakin padatnya pemukiman di wilayah tersebut yang didiami baik pelukis asli dari Jelekong ataupun dari luar Jelekong. Pewarisan keterampilan melukis yang dilakukan secara turun temurun serta kegiatan melukis yang dijadikan sebagai mata pencaharian kebanyakan warga Jelekong, menjadikan lukisan tersebut makin berkembang dan mengalami peningkatan dalam hal kuantitasnya. Terlebih jika ada pesanan, maka produksi lukisan dapat mencapai 2 sampai 3 kali lipat dari hari biasanya. Dalam hal jumlah lukisan, peningkatan tersebut ditandai dengan makin ramainya para pembeli dan pemasaran yang makin lama makin meluas ke berbagai daerah baik dalam ataupun luar negeri.

Perkembangan Kualitas Lukisan
    Perkembangan kualitas lukisan Jelekong dari waktu kewaktu pada umumnya mengalami penurunan. Dahulu pada awalnya bahan dasar lukisan memiliki kualitas yang tahan lama tetapi karena harga dari bahan dasar lukisan misalnya kanvas  semakin mahal sehingga para pelukis tidak mampu membeli kanvas tersebut akhirnya para pelukis membuat inisiatif untuk membuat sendiri kanvasnya yaitu dari bahan kain biasa yang dipoles dengan tepung aci. Dilihat dari harga mungkin akan terjangkau oleh pelukis tetapi dampak dari kanvas buatan tersebut kualitasnya menurun, sehingga dalam beberapa waktu lukisan yang mayoritas harganya murah akan rusak dan cat minyaknya akan luntur dan mengalami perubahan warna.
Pasca krisis moneter, para pelukis Jelekong sudah mulai banyak  lagi menggunakan kanvas dan cat yang kualitasnya lumayan baik bahkan ada yang menggunakan cat impor dari Inggris, Cina, Belanda, dan Korea.
Lukisan Jelekong apabila dikategorikan atau diklasifikasikan berdasarkan kualitas lukisan, maka dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:
Kelas bawah, dimana lukisan tersebut menggunakan cat, kanvas dan alat-alat yang sederhana dan dengan motif lukisannya hanya pemandangan.
Menengah atas, menggunakan kanvas berkualitas, cat bermerk untuk lukisan dengan motif yang lebih bervariasi (tidak hanya pemandangan).     

PENGARUH LUKISAN JELEKONG TERHADAP MASYARAKAT

Pengaruhnya Terhadap Pelukis
Pada awal kemunculannya, kegiatan melukis di desa Jelekong itu bersifat kesenian, akan tetapi kemudian seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi yang terjadi, melukis menjadi suatu kerajinan. Hampir disetiap rumah tangga di desa Jelekong itu membuat lukisan. Hal ini dikarenakan masalah ekonomi, dengan semakin banyaknya kebutuhan yang ingin dipenuhi, dan terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia. Akan tetapi tidak semua pelukis di desa Jelekong menganggap bahwa lukisan Jelekong itu hanya sebagai sebuah kerajinan, dalam hal ini maksudnya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena ada juga beberapa diantara pelukis disana, yang memang melukis itu untuk mengisi waktu senggang atau untuk memenuhi kepuasan batin. Sebab pelukis-pelukis tersebut mempunyai pekerjaan lain yang berpenghasilan tetap, selain dengan hanya sebagai pelukis.
Sebelum munculnya lukisan Jelekong, sebagian besar masyarakat desa Jelekong berprofesi sebagai buruh tani. Namun setelah kerajinan melukis di desa Jelekong semakin ramai, maka banyak dari masyarakat disana yang beralih profesi sebagai pelukis. Selain profesi-profesi tersebut, keberadaan lukisan Jelekong pun membawa dampak bermunculannya pabrik-pabrik di sekitar desa Jelekong, sehingga ada pula sebagian dari masyarakat Jelekong yang berprofesi sebagai buruh pabrik.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa hasil dari melukis itu bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun terkadang kalau sedang sepi atau sedikit pembeli, penghasilan yang didapat oleh seorang pelukis sangat sedikit terutama setelah adanya krisis moneter, jika diukur dengan UMR (Upah Minimum Regional) Kabupaten Bandung, pelukis Jelekong mempunyai penghasilan yang minim bahkan dibawah UMR. Keadaan penghasilan pelukis ini berbeda dengan keadaan penghasilan pelukis pada tahun 1970-an, dimana penghasilan satu hari setara dengan dua gram emas..
Kebalikan dari kehidupan seorang pelukis, kalau kehidupan seorang tengkulak lukisan jauh lebih baik karena memiliki penghasilan yang jauh lebih besar daripada pelukis. 
Jadi perlu diperjelas dan ditekankan lagi, bahwa munculnya lukisan Jelekong itu sangat mempengaruhi kehidupan seorang pelukis. Terlepas bahwa si pelukis memiliki atau tidak pekerjaan lain selain melukis, yang jelas keberadaan lukisan Jelekong sangat berpengaruh dan membantu dalam kehidupan seorang pelukis, terutama dari aspek ekonomi.
Peningkatan keadaan ekonomi para pelukis pun berpengaruh terhadap tingkat pendidikan masyarakat Jelekong dimana sekarang minimal mereka telah mengenyam SMP bahkan sudah banyak yang berpendidikan tinggi semisal universitas.
      
Pengaruhnya Terhadap Komunitas di Luar Pelukis
    Keberadaan kerajinan melukis di desa Jelekong juga membawa pengaruh terhadap komunitas lain diluar komunitas pelukis. Sebagaimana halnya dengan pengaruh yang didapatkan oleh para pelukis, pengaruh yang didapatkan oleh komunitas diluar pelukis pun juga sama, yaitu berhubungan dengan aspek ekonomi.
Munculnya lukisan Jelekong menimbulkan hubungan baru antara pelukis dengan komunitas diluar pelukis, yang  memiliki keterkaitan cukup erat. Alasannya adalah karena tanpa adanya komunitas pelukis, kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh komunitas lainnya diluar pelukis akan kurang maksimal, begitu pula sebaliknya.
Perlu dijelaskan bahwa yang berada dalam komunitas diluar pelukis adalah pedagang lukisan, penjual bahan-bahan atau alat-alat yang berkaitan dengan kegiatan melukis, tukang ojek, dan masih banyak yang lainnya. Sebagai contoh keterkaitan antara pelukis dengan komunitas diluar pelukis adalah hubungan timbal balik antara pelukis dengan penjual bahan-bahan yang berkaitan dengan lukisan. Tanpa adanya para pelukis mungkin penghasilan yang didapatkan oleh para penjual bahan-bahan tersebut tidak akan terlalu banyak. Contoh lainnya adalah tukang ojek. Dulu sebelum pusat lukisan berpindah dari Cileunyi ke Jelekong, penghasilan yang didapatkan oleh para tukang ojek mungkin tidak terlalu banyak. Akan tetapi dengan munculnya kerajinan melukis di desa Jelekong maka secara tidak langsung akan membawa dampak yang sangat positif  bagi para tukang ojek, yaitu semakin banyaknya pengguna jasa ojek seiring dengan semakin ramainya aktifitas atau kegiatan yang berkaitan dengan lukisan dan semakin ramainya konsumen yang akan membeli lukisan. Dan masih banyak lagi contoh lainnya yang memperlihatkan dampak yang ditimbulkan dari munculnya lukisan Jelekong.
Jadi sudah jelas bahwa keberadaan lukisan Jelekong membawa pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat atau komunitas diluar pelukis. Dan sama halnya dengan pelukis, komunitas diluar pelukis pun merasakan pengaruh yang cukup besar dari munculnya lukisan Jelekong, terutama aspek ekonomi. Terlepas mengenai sepi atau ramai pembeli, tetap saja membawa dampak terhadap komunitas diluar pelukis.         
Pada saat itu, jalan diwilayah Jelekong  belum beraspal. Seiring dengan waktu, maka kemudian bermunculan mata pencaharian lain di wilayah ini seperti tukang ojek yang menggantikan delman dan munculnya angkutan umum pada awal periode 1990-an, ada juga yang menjadi buruh pabrik pada sekitar tahun 1995 hingga saat ini, ada juga yang menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ditambah lagi dengan adanya tren lukisan yang melanda wilayah ini, sekitar tahun 1975-an, yang telah menciptakan lapangan kerja baru. Mereka yang menganggur, menjadikan kegiatan melukis ini sebagai profesi utamanya, walaupun pada awalnya kegiatan melukis ini hanya merupakan sikap latah saja terhadap adanya tren melukis yang terjadi saat itu. Namun, dengan berkembangnya pemahaman manusia mengenai sisi ekonomis lukisan, maka kemudian aktivitas ini dijadikan sebagai profesi tetap. Perkembangan pemahaman ini tumbuh tatkala adanya aktivitas pameran lukisan di wilayah kabupaten atau tingkat propinsi (berawal dari tahun 1980) yang menyebabkan lukisan mereka diminati dan diincar untuk dimiliki dengan sejumlah uang kompensasi.
Dengan berkembangnya aktivitas melukis menjadi sebuah profesi, maka tidak pelak lagi mengundang profesi baru di kalangan penduduk Jelekong. Ada yang kemudian menjadi penjual bahan-bahan lukisan, seperti cat, kanvas, pigura, dan sebagainya; bahkan ada pula yang menjadi bandar atau tengkulak.
Setelah kemunculan para pendatang pada tahun 1980 hingga 2000, menyebabkan profesi petani kian lama kian tergusur. Mereka—para pendatang—tentunya membutuhkan tempat tinggal untuk eksistensinya. Dengan demikian, lahan pertanian yang sedemikian luas tersebut, diubah menjadi sebuah pemukiman. Tidak cukup dengan itu, daerah perbukitan juga diubah fungsi menjadi tempat tinggal mereka. Kedatangan para migran itu, ternyata berdampak pula secara moral. Para kaum migran yang pada umumnya menginginkan kehidupan yang lebih baik di Jelekong, ternyata tidak semuanya mampu mengikuti gaya kehidupan masyarakat lama dalam mempertahankan hidupnya. Tidak semuanya bisa melukis, tidak semuanya bisa bertani (apalagi kini bertani bukanlah hal yang menyenangkan lagi), tidak semuanya mampu bekerja di pabrik atau sebagai pegawai negeri. Hal ini kemudian membuat mereka menciptakan lapangan kerja baru, baik yang bersifat legal dan yang bersifat ilegal. Usaha-usaha yang bersifat legal, misalnya meliputi pedagang benda-benda untuk percetakan, tukang ojeg, atau supir angkutan umum. Usaha-usaha yang bersifat ilegal, misalnya perjudian dan narkoba. Usaha-usaha ilegal ini kemudian menjadi musuh dalam selimut, di satu pihak dibenci dan ingin dibasmi oleh masyarakat, di sisi lain menyedot minat masyarakat Jelekong untuk berbondong-bondong terjerumus dalam kemaksiatan

Kamis, 04 Maret 2010

Modal Saham

Pengertian Modal Saham

Modal menggambrkan hak pemilik atas perusahaan yang timbul sebagai akibat investasi yang dilakukan oleh pemilik atau para pemilik. Struktur modal saham suatu perusahaan tergantung pada bentuk badan usahanya
Dewasa ini perusahaan-perusahaan besar dan raksasa umumnya didominasi oleh perseroan-perseroan, perseroan mempunyai beberapa keunggulan tertentu yang apabila ditangani dengan baik dapat membawanya berkembang dan lebih menguntungkan. Salah satu kelebihan perseroan adalah terletak pada permodalannya.
Untuk mendapatkan dana yang diperlukan guna membiayai kegiatan operasinya, maka suatu perseroan mengeluarkan sejumlah surat atau sertifikat saham yang dijual kepada para pendiri dan orang-orang lain yang berminat
Dengan demikian perseroan akan mendapat sejumlah aktiva yang besarnya tergantung pada jumlah lembar saham dan nilai tiap lembar saham yang dijual. Setiap orang yang memilki saham yang dikeluarkan oleh suatu perseroan disebut pemegang saham yang pada hakikatnya merupakan pemilik perseroan.

Karakteristik Perseroan

Kesatuan Usaha Terpisah

Suatu perseroan harus memiliki anggaran dasar yang disahkan notaris dan harus didaftarkan serta mendapat persetujuan Departemen Kehakiman .
Apabila telah disetujui dan dan diumumkan dalam Lembaran Negara maka secara hukum perseroan telah dipandang sebagai suatu subyek hukum. Dari segi akuntansi suatu perseroan yang telah berdiri dengan sah akan dipandang sebagai suatu kesatuan akuntansi yang terpisah dari para pemilik atau pemegang saham,

Tanggung Jawab Terbatas

Tanggung jawab para pemegang saham atas kewajiban-kewajiban perseroan biasanya terbatas pada jumlah penyertaannya dalam perseroan yang bersangkutan.hal ini berarti bahwa pemegang saham tidak bertanggung jawab dengan seluruh harta kekayaan yang dimilkinya seandainya perseroan tidak mampu melunasi hutang-hutangnya. Itu sebabnya pemegang saham hanya bertanggung jawab sebesar nilai saham yang dimilikinya.





Pemindahan Pemilikan

Saham-saham yang dikeluarkan suatu perseroan dapat dipindah tangankan tanpa mempengaruhi opersi perusahaan. Apabila saham dijual oleh pemegangnya  kepada pihak lain, maka hal ini tidak perlu dibukukan oleh perseroan yang mengeluarkan saham tersebut, tetapi cukup dengan membuat suatu catatan atau keterangan dalam buku saham.

Kelangsungan Hidup

Karena kepemilikan saham bisa dipindahkan atau dioperkan kepada pihak lain tanpa menggangu jalannya operasi perusahaan, maka kelangsungan hidup perseroan lebih terjamin  bila dibandingkan dengan persekutuan. Dalam suatu persekutuan, setiap perubahan pemilik secara tehnis akan menyebabkan bubarnya persekutuan yang lama dan membentuk persekutuan baru.

Kemampuan Meningkatkan Modal

Tanggung jawab terbatas pemegang saham dan kemudahan dan kemudahan dalam menjual kembali saham merupakan daya tarik yang meyebabkan perseroan mudah meningkatkan modalnya apabila dikehendaki. Baik pemegang saham dalam jumlah besar maupun kecil, sama-sama mempunyai hak pemilikan dalam perseroan. Dengan dmikian perseroan tidak hanya menarik bagi orang-orang kaya tetapi juga penanam modal kecil. Keadaan inilah yang menyebabkan perseroan umumnya bermodal besar.


Jenis-Jenis Saham

Jumlahdan jenissaham yang dikeluarkan oleh suatu perseroan ditetapkan dalam akte pendirian perseroan. Suatu perseroan mungkin mengeluarkan lebih dari satu jenis saham. Jika saham yang dikeluarkan satu jenis, maka saham tersebut dinamakan saham biasa. Pemegang saham biasa adalah merupakan pemilik yang paling pokok dalam perseroan. Mereka mempunyai hak suara, turut menentukan dalam pembagian laba, menentukan penabahan saham saham baru atau mungkin juga dalam hal liquidasi perseroan.
Oleh karena pemegang saham biasa adalah merupakan pemilik perusahaan, maka mereka berhak untuk memilih anggota-anggota dewan Komisaris.
Selain mengeluarkan saham biasa, suatu perseroan mungkin juga mengeluarkan jenis saham lainnya yang disebut saham preferen. Salah satu keistimewaan saham preferen terletak pada hak istimewa dalam pembagian dividen.

Dividen

Dividen adalah bagian laba yang dibagikan kepada para pemegang saham. Apabila dewan komisaris mengumumkan pembagian deviden, maka penegang saham preferen akan mendapat sejumlah deviden tahunan tertentu sebelum ditentukan dividen untuk pemegang saham biasa. Besarnya ditetapkan dalam akte pendirian perseroan yaitu dalam bentuk persentase tertentu dari nilai pari saham atau dari nilai tertentu bila saham tidak mempunyai nilai pari. Sebagai contoh bila tiap lembar saham preferen  bernilai pari Rp. 100.000,00 dengan tingkat deviden 6%, maka pemegang saham preferen akan menerima dividen sebesar Rp. 6.000,00 untuk tiap lembar saham yang dimilikinya.. jumlah ini akan terhutang kepada pemegang saham preferen, bila hal itu telah diumumkan oleh dewan komisaris..

Hak Suara

Biasanya pemegang saham preferen tidak mempunyai hak suara dalam memilih anggota dewan komisaris. Namun hal tersebut bisa juga diberikan kepada pemegang saham preferen apabila diatur dalam akte pendirian perseroan. Suatu akte pendirian mungkin menetapkan bahwa semua pemegang saham mempunyai hak suara atau ada juga yang memberi hak suara dalam hal-hal tertentu

Beberapa Pengertian Modal

Di dalam akte pendirian perseroan yang harus dicantumkan jumlah maksimum lembar saham yang bisa dikeluarkan. Yang disebut modal dasar perseroan. Apabila perseroan bermaksud mengeluarkan saham yang lebih besar dari modal dasarnya, maka perseroan tersebut harus mengubah akte pendiriannya terlebih dahulu.
Saham yang telah dicetak dan siap untuk dijual disebut modal yang ditempatkan. Bila saham yang ditempatkan telah dijual dan berada di tangan pemegang saham, maka saham-saham tersebut disebut modal yang disetor atau modal saham beredar.

Saham Bernilai Pari dan Tidak Bernilai Pari

Akte pendirian biasanya menyebutkan nilai tertentu untuk tiap lembar saham yang disebut nilai pari saham. Nilai pari sangat penting artinya dalam rangka melakukan pencatatan akuntansi atas saham.
Saham mungkin dijual dengan harga yang berbeda dengan nilai parinya. Bila saham dijual dengan harga lebih tinggi dari nilai parinya, maka selisih kelebihan harga jual di atas nilai pari disebut agio, sedang bila dijual dengan harga lebih rendah dari nilai pari, maka selisih kekurangan harga jual di bawah nilai pari disebut Disagio.
Istilah yang digunakan dalam akuntansi untuk kedua hal di atas adalah apa yang disebut Agio Saham dan Disagio Saham.

Pengeluaran Saham Secara Tunai

Di dalam melakukan pengeluaran saham, perseroan bisa menggunakan jasa dari suatu bank. Dalam hal ini bank bertindak sebagai underwriter pengeluaran saham, dimana bank tersebut membeli saham dari perseroan dan menjualnya kembali kepada para penanam modal/investor.



Dengan demikian perseroan tidak menanggung risiko bilasahamnya tidak laku dijual. Risiko berpindah ketangan bank sebagai kompensasi atas laba yang diperolehnya dari penjualan saham, karena bank bisa menjual saham dengan harga jual yang lebih tinggi dari harga belinya.

Pesanan Saham

Kadang-kadang perseroan menjual sahamnya langsung kepada para investor tanpa melalui bank saham dijual kepada para calon investor yang telah menandatangani kontrak pesanan sebelum saham dikeluarkan.
Bila perseroan yang akan mengeluarkan saham menerima pesanan, maka pesanan tersebut dicatat dengan mendebet suatu rekening piutang yang disebut piutang Pesanan Saham. Rekening yang harus di kredit adalah rekening Saham Biasa Dipesan yang merupakan suatu rekening sementara. Disini  perseroan menggunakan rekening sementara karena saham belum diterima pembayarannya dan juga belum dikeluarkan.

Pengeluaran Saham – Diterima Aktiva Bukan Kas

Dalam pengeluaran saham dimana perseroan tidak menerima kas tetapi berupa aktiva lain misalnya tanah, gedung,atau aktiva lainnya, maka kita harus hati – hati dalam menentukan jumlah rupiah yang akan dicatat.
Harta yang diperoleh harus dicatat sebesar nilai yang wajar dari harta tersebut atau nilai yang wajar dari saham, tergantung mana yang lebih mudah penentuannya. Bila saham yang dikeluarkan perseroan beredar secara aktif di bursa saham, maka nilai saham akan mudah ditentukan.
Sebagai contoh jika harga pasar saham saat ini di bursa Rp. 140.000,00 per lembar dan perseroan menerima sebidang tanah dengan menyerahkan 500 lembar saham, maka tanah ini dapat dinilai sebesar Rp. 70.000.000,00.

Saham Yang Diperoleh Kembali

Apabila suatu perseroan membeli kembali saham-sahamnya yang telah beredar tetapi tidak bermaksud menghentikan saham tersebut disimpan oleh perusahaan maka saham ini disebut saham diperoleh kembali.
Pembelian kembali saham yang sudah beredar ini bisa dilakukan karena bebagai tujuan, misalnya apabila perseroan menginginkan agar saham-saham dimiliki oleh para karyawannya, maka saham-saham yang telah dibeli kembali oleh perseroan akan dijual kepada para karyawan. Namun apapun alasannya, bila perseroan membeli kembali sahamnya, maka untuk suatu jangka waktu tertentu akan  terjadi pengurangan modal pemilik.
Prosedur yang umum digunakan untuk mencatat  pembelian kembali  saham adalah dengan  mendebet rekening Saham Diperoleh Kembali sebesar harga perolehannya. Di dalam neraca harga perolehan tersebut harus dikurangkan terhadap jumlah rekening – rekening modal.


Modal Sumbangan

Modal sumbangan timbul  karena adanya sumbangan yang diberikan kepada perusahaan berupa harta kekayaan tertentu tanpa imbalan. Sumbangan semacam ini bisa berasal dari pemegang saham atau dermawan lainnya.
Pemegang saham mungkin ingin memberi sumbangan kepada perseroannya dengan memberikan saham yang dimilikinya. Pada waktu sumbangan saham diterima, perseroan tidak membuat jurnal tetapi membuat suatu catatan atau memorandum di buklu jurnal.  Bila saham sumbangan di jual, maka perseroan akan membuat jurnal dengan mendebet rekening Kas dan mengkredit rekening Modal Sumbangan.
Apabila perseroan menerima sumbangan berupa harta kekayaan lain, maka rekening aktiva yang bersangkutan di debet dan rekening Modal Sumbangan di kredit.

Rekening-rekening Tambahan Modal

Jenis – jenis transaksi yang sering terjadi yang menimbulkan tambahan atas modal seperti adanya agio saham, tambahan modal dari penjualan saham yang  diperoleh kembali, modal sumbangan dan pengurang atas tambahan modal yang disebut disagio saham.
Selain hal-hal di atas, tambahan modal bisa juga terjadi dalam proses pelunasan saham. Yang dimaksud dengan pelunasan saham adalah pembelian kembali saham yang dikeluarkan oleh perseroan dan tidak akan diedarkan atau  dijual lagi. Apabila saham ditarik dari peredaran dengan harga yang lebih rendah dari harga jualnya, maka akan timbul suatu jenis tambahan modal yang baru, yang disebut Tambahan Modal-Pelunasan Saham.
Seandainya saham dilunasi dengan harga yang lebih tinggi dari harga jualnya, maka selisihnya dapat didebetkan ke rekening Laba Yang Ditahan.

Nilai Buku Per Lembar Saham

Informasi yang tercantum dalam bagian modal dari suatu neraca perseroan diperlukan oleh para investor atau calon investor dan manajemen sebagai bahan untuk dianalisa. Salah satu alat pengukur yang sangat penting di dalam melakukan analisa laporan keuangan ialah “ nilai buku per lembar saham”
Nilai buku saham adalah jumlah rupiah kekayaan /aktiva  bersih yang tercermin dalam satu lember saham yang dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut :

Nilai Buku Saham m = Jumlah rupiah saham m di neraca
             Jumlah lembar saham m beredar

Informasi tentang nilai buku saham biasa per lembar dilaporkan oleh management dalam laporan tahunan untuk pemegang saham . informasi ini berguna untuk mengambil keputusan dalam berbagai hal, misalnya dalam pengambilan keputusan untuk penggabungan dua buah perseroan / merger , dalam penentuan harga jual saham dan sebagainya.

Pendanaan Bank

Pendanaan Bank

Bank dalam melakukan aktivitas kegiatannya, tidak terlepas dari usaha dalam menghimpun dana untuk membiayai operasionalnya serta pengelolaan dana tersebut oleh para eksekutif bank. Kegiatan  dalam pengelolaan dana tersebut meliputi :

1.Mencari, memilih, dan menetapkan sumber dana yang semurah mungkin
    Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk memperoleh dana atau modal baik yang bersumber dari masyarakat, dari bank itu sendiri maupun dana yang bersumber dari lembaga lainnya sebagai investasi yang tingkat pengembalian atau bunga pinjamannya sekecil dan semurah mungkin . Karena tersedianya jumlah modal yang besar adalah perlu bagi bank untuk kelancaran tugas-tugas bank tersebut. Dan biasanya pihak bank menawarkan dan iming-iming hadiah supaya merangsang orang untuk menyimpan uangnya di bank.

2.Mencari, memilih, dan menetapkan alokasi dana yang paling menguntungkan
    Dalam mencari, memilih, dan menetapkan pengalokasian dana yang paling menguntungkan yaitu dalam penyalurannya, dimana dana yang berhasil dihimpun tersebut  disalurkan kembali baik kepada masyarakat umum maupun badan usaha atau perusahaan dengan tingkat suku bunga yang ditetapkan bank Karena dengan semakin banyaknya dana yang disalurkan, semakin meningkat keuntungan yang diperoleh pihak bank . Dalam menetapkan alokasi dana yang paling menguntungkan biasanya pihak bank memberikan kredit kepada perusahaan atau proyek, baik yang dimiliki pemerintah maupun swasta..

3.Menetapkan tingkat suku bunga bagi berbagai jenis sumber dana bank dan                                                    menetapkan tingkat suku bunga kredit
    Dalam menetapkan bunga yang diberikan kepada pemegang saham, masyarakat maupun lembaga lainnya yang telah menyimpan dan memberi kepercayaan kepada pihak bank dalam bentuk persentase (%). Bank berupaya untuk memberikan bunga yang dapat menarik atau merangsang seseorang untuk menanamkan atau menyimpan uangnya di bank dalam bentuk produk dan bunga yang ditawarkan.
Dalam hal menetapkan tingkat suku bunga kredit pihak selalu mengacu kepada kebijakan pemerintah .Biasanya tingkat suku bunga kredit lebih besar dari simpanan,hal ini dikarenakan  dalam pemberian kredit pasti mengandung resiko kredit macet atau tidak terbayar.